Amazing Baitulloh

Bismillahirrahmanirrahim

Kali ini saya akan menulis tentang Amazing Baitullah, Tulisan ini merupakan intisari dari buku yang ditulis oleh Ir. Agus Haryo Sudarmodjo. Berawal dari mendengarkan penjelasan beliau saat mengisi majelis taklim di sebuah masjid di Jakarta dan rasa penasaran saya terhadap Ka’bah dan kota makkah maka saya membeli buku tersebut dan subhanallah bukan hanya rasa pensaran saya yang terjawab namun lebih dari itu, banyak sekali informasi yang bisa saya dapatkan.

Bagi beberapa orang, mempertanyakan tentang mengapa shalat itu harus menghadap kiblat?mengapa kota makkah dipilih sebagai kota yang suci? mengapa di dalam ka’bah itu kosong?apakah sebenarnya yang disembah?apakah ka’bah itu identik dengan sesembahan?terkadang bagi orang awam seperti saya pertanyaan tersebut seringkali muncul karena takaran keimanan saya belum sampai pada tahap “sami’na wa atho’na” yang artinya adalah mendengarkan kemudian melaksanakan tanpa banyak bertanya.

Pertanyaan diatas dijawab dalam buku Amazing Baitullah. Allah SWT maha teliti atas dan maha menghitung, segala sesuatu yang ada di alam semesta ini diciptakannya dengan sangat teliti dan penuh perhitungan. Alam semesta ini telah Allah SWT persiapkan sejak kurang lebih 13.7- 18.24 miliar tahun yang lalu.  Menurut sains yang mempelajari tentang alam semsta , terbentuknya alam semsta dimulai pada saat terjadinya ledakan besar (big bang) karena adanya gravitasi. Langit dan bumi pada awalnya merupakan satu titik yang saling melekat dan tidak terpisahkan  hal ini seiring dengan penjelasan yang ada di dalam Al-Qur’an “Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwa langit dan bumi keduanya dahulu menyatu,kemudian kami pisahkan antara keduanya; dan kami jadikan segala sesuatu yang hidup berasal dari air; maka mengapa mereka tidak beriman?(QS AL-Anbiya’ (21):30).

Sejak saat itu, langit mulai mengembang seperti balon yang ditiup, bintanf-bintang mulai terbentuk. Bila diperhatikan, dalam surat Al-Fushlihat ayat 9 disebutkan bahwa “Katakanlah, Pantaskah kamu ingkar kepada Tuhan yang menciptakan bumi dalam dua masa dan kamu adakan pula sekutu-sekutu bagi-Nya?itulah Tuhan seluruh alam” , Allah SWT menyebutkan bahwa proses penciptaan bumi sendiri terjadi dalam 2 masa kemudian penciptaan langit dan bumi dirangkum dalam surat As-Sajadah ayat 4 ‘ Allah menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada diantaranya dalam dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam diatas Arasy. Bagimu tidak ada seorang pun penolong maupun pemberi syafaat selain Dia. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?”. Jelas sudah bahwa jika kita kalkulasikan, bumi diciptakan dalam 2 masa penciptakan dan keduanya (langit dan bumi) diciptakan dalam 6 masa penciptaan maka jika disimpulkan umur langit adalah (6-2)/6 atau 2/3 umur bumi dan umur bumi sendiri adalah 2/6 atau 1/3  umur langit. Didalam Al-Qur’an Allah SWT tidak pernah terbalik dalam menyebutkan diantara keduanya.

Ledakan besar (big bang) yang telah disinggung diatas memunculkan bintang matahari dan pecahannya yang kita sebut sebagai planet-planet. Perlu diketahui bahwa jumlah planet bukanlah 9 seperti yang dulu pernah kita pelajari semasa sekolah dasar, jumlah planet sebenarnya adalah 11. Saat beberapa hari yang lalu saya membuka situs Yahoo, saya menemukan artikel bahwa para ilmuan telah menemukan 2 planet tambahan selain yang telah kita ketahui bersama. Hal ini sejalan dengan yang disampaikan oleh Allah SWT dalam surat Yusuf ayat 4 “(Ingatlah), ketika Yusuf berkata kepada ayahnya, “Wahai ayahku! Sungguh, aku (bermimpi) melihat sebelas bintang,matahari, dan bulan;kulihat semuanya sujud kepadaku”. Bintang disini diartikan sebagai planet kata kaukab lebih tepat diartikan sebagai planet sedangkan kata yang merepresentasikan bintang adalah najm, surah yang menjelaskan tentang bintang dalam Al-Qur’an adalah surat An-Najm sehingga Kaukab lebih bisa diartikan sebagai planet.

Planet bumi merupakan planet yang terbentuk dari pecahan matahari, bongkahan pecahan tersebut masih membara pada awalnya dan selama ratusan juta tahun baru bisa padam melalui proses pembekuan. Pembekuan tersebut terjadi pada kerak bumi, sehingga terciptalah daratan yang tampak seperti hamparan dan langit sebagai atapnya , hal ini sejalan dengan penjelasan Allah SWT dalam surat Al-Baqarah ayat 22 “ (Dialah) yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan dialah yang menurunkan air (hujan) dari langit. Lalu dia hasilkan dengan (hujan) itu buah-buahan sebagai rezeki untukmu. Karena itu, janganlah kamu mengadakan tandingan-tandingan bagi Allah, padahal kamu mengetahui”.  Setelah Allah jadikan permukaan bumi sebagai hamparan, sesuai urutan dalam surat Al-Baqarah tersebut, Allah menurunkan air dari langit dengan cara memborbardir bumi dengan bongkahan komet (bongkahan yang mengandung Kristal es), sebagaimana hal ini juga dijelaskan dalam surat An-Nur ayat 43 “….dan Allah juga menurunkan dari langit bongkahan gunung, yang didalamnya ada Kristal es. Maka ditimpakan-Nya bongkahan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan dipalingkan-Nya dari siapa yang dikehendaki-Nya. Kilauan kilat awan itu hampir menghilangkan penglihatan”.  NASA (Lembaga Antariksa Amerika) pernah menyebutkan bahwa air yang berada di bumi memang sebagian besar bukan berasal dari planet bumi namun berasal dari komet yang menumbuk bumi.  Setelahnya bumi terlihat sebagai hamparan lautan karena tertutup oleh air, Bagian dalam bumi yang masih membara kemudian mulai menonjol keatas dan bersendawa meuntahkan material-material pendukung kehidupan sehingga munculah daratan diatas air laut. Gunung api pertama yang menonjol ketas permukaan laut dan memuntahkan isinya tersebut berada di kota makkah. Benua-benua yang ada di daratan ini berkembang dari kota makkah.

Penjelasan diatas sesuai dengan penjelasan dalam hadist rasululloh SAW, “Dahulu Ka’bah adalah bukit/gunung kecil diatas air kemudian dibentangkanlah bumi dari (bawah) nya.” (An-Nihayah fi Gharib Al-Hadis wa Al-Atsar, Juz II, h. 34-35). Para ahli geologi juga meyakini hadist rasululloh diatas bahwa ka’bah atau kota Makkah sebagai poros dari semua pergerakan benua dengan kecepatan rata-rata 4-12 cm per tahun.

Sedangkan untuk penjelasan mengapakah ka’bah dijadikan sebai pusat titik arah ibadah umat islam, hal ini telah ditentukan oleh Allah SWT. Ka’bah telah ditandai sejak Adam AS turun ke dunia sebagai khalifah Allah SWT dengan diletakannya batu penanda oleh Adam AS dan keluarga. Allah SWT telah menjaga posisi Ka’bah ini dari mulai manusia belum ada hingga saat ini. Dalam QS Ali-Imran ayat 96 disebutkan “ Sesungguhnya rumah (ibadah) pertama yang dibangun untuk manusia adalah (Baitulloh) yang di Bakkah (Makkah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi seluruh alam.”. Allah Ta’ala telah meletakkan Ka’bah dalam posisi yang ditentukan-Nya dan menjaga letak posisi tersebut agar manusia bisa mengambil pelajaran darinya, agar ia yakin bahwa Allah SWT adalah yang tunggal yang menciptakan alam semesta ini, sesuai dengan kalimat “……dan menjadi petunjuk bagi seluruh alam”.

 

Kemudian dari kajian etika, juga bisa dijelaskan mengapa umat islam harus shalat dengan menghadap ke kiblat.  Namun sebelumnya perlu dipahami dahulu arti kata kiblat. Kiblat adalah arah pemusatan perhatian. Makna penetapan kiblat adalah untuk mempersatukan seluruh umat islam di dunia ini tanpa memandang suku, ras, bangsa, warna kulit, kaya, miskin,perempuan, laki-laki, tua, dan muda.  Allah ta’ala memilih untuk menetapkan Ka’bah sebagai arah pemusatan perhatian untuk shalat.  Jika penentuan ini diserahkan kepada manusia niscaya akan terjadi banyak perdebatan dan kekisruhan, maka karena Allah maha bijaksana, Allah tetapkan dengan kuasa-Nya ka’bah ini sebagai titik pusat perhatian tersebut.  Ketika Nabi Adam AS dan Hawa turun ke dunia, fondasi Ka’bah telah diletakkan oleh Malaikan-Nya, sehingga kiblat bagi Nabi Adam AS dan keturunannya adalah Ka’bah yang bentuknya masih sangat sederhana, oleh karena itu sejak awal manusia modern di turunkan oleh Allah SWT, Allah telah memerintahkan untuk menyembah-Nya dengan menghadap kiblat, ini berarti umat sebelum nabi Muhammad SAW telah melakukan hal yang sama yaitu menyembah Allah SWT dengan menghadap kiblat.

Kiblat umat manusia pernah berpindah, hal ini bisa dikonfirmasi dalam surat Al-Baqarah ayat 144 “ Kami melihat wajahmu (Muhammad) sering menengadah ke langit maka kami palingkan engkau ke kiblat yang engkau senangi, maka hadapkanlah wajahmu kea rah masjid Al-Haram. Dan dimana saja engkau berada , hadapkanlah wajahmu ke arah itu. Dan sesungguhnya orang-orang yang diberi kitab (Taurat dan Injil) tahu bahwa (pemindahan kiblat) adalah kebenaran dari Tuhan mereka. Dan Allah tidak lengah, terhadap apa yang mereka kerjakan.”   Pemindahan kiblat ini karena dahulu sewaktu jaman Nabi Nuh, umat nabi Nuh yang tidak mau menyembah Allah diazab dengan datangnya banji bandang, waktu itu Ka’bah menjadi hancur, dan sejak saat itu pusat perhatian “kiblat” bagi bani Israil berpindah ke Masjidil Aqsha (Al-Quds).  Sejak nabi Muhammad hijrah ke madinah, Allah memerintahkan Nabi Muhammad SAW untuk shalat dengan menghadap ke Masjid Al-Aqsha, selama sekitar 17 bulan Nabi Muhammad SAW melaksanakan shalat dengan menghadap Masjid Al-Aqsha, namun saat itu rasululloh sangat mengharapkan agar ia dan umatnya bisa shalat menghadap ke arah yang sama dengan umat-umat nabi-nabi  sebelumnya yaitu ke arah Masjid Al-Haram sehingga turunlah surat Al-Baqarah ayat 144 tersebut diatas.

Hikmah dari perpindahan arah kiblat tersebut diatas adalah, sebagai ujian keimanan bagi umat muslim pada jaman tersebut, karena perkara perpindahan kiblat ini bukanlah perkara yang sepele, hanya orang-orang yang beriman yang mampu untuk melaksanakan hal tersebut dengan “sami’na wa atho’na” yang kedua hal ini menunjukkan bahwa Masjid Al-Aqsha (Al-Quds) maupun Masjid Al-Haram bukanlah suatu berhala, tujuan shalat adalah menghadapkan diri ke Allah SWT bukan kepada benda yang pada akhirnya menjadi berhala. Kiblat hanya syarat bagi makhlukNya untuk taat terhadap perintah Allah SWT.

Allah SWT adalah tuhan semesta alam, Allah SWT sangat menyayangi makhluknya, Allah ciptakan bumi dan seisinya untuk tempat tinggal manusia dan memberikannya kehidupan yang baik, Ia jelaskan agama Nya dengan banyak hal kemudian Ia titipkan Al-Qur’an kepada manusia sebagai Rahmatan Lil A’lamin. Nabi Ibrahim sendiri menyadari tentang makna ketuhanan yang maha Esa melalui Jagad raya ini, kita sebagai umat nabi Muhammad dan sebagai makhluk Allah SWT yang hidup dalam zaman yang sudah modern harusnya juga mampu untuk bermuhasabbah melalui alam dengan lebih cerdas. Segala sesuatu ini adalah milik Allah dan akan kembali kepada Allah. Seperti yang Allah SWT jelaskan dalam surat Ar-Ra’d  ayat 2 “ Allah yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam diatas Arsy’. Dia menundukan matahari dan bulan; masing-masing beredar menurut waktu yang telah ditentukan. Dia mengatur urusan (makhluk-Nya), dan menjelaskan tanda-tanda (Kebesaran-Nya), agar kamu yakin akan pertemuan dengan Tuhanmu.”.

Demikianlah yang bisa saya intisarikan dalam tulisan ini, sebetulnya masih banyak hal yang ingin saya jelaskan namun karena keterbatasan waktu dan keterbatasan kapasitas untuk mengintisarikan buku yang ditulis oleh Ir. Agus Haryo Sudarmodjo. Semoga bisa bermanfaat bagi sesame dan bisa menguatkan iman islam kita semua.

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: