Pengakuan Pendapatan (PSAK 23 Revisi 2010)

Kali ini saya akan mencoba membagi pemahaman saya tentang Pengakuan pendapatan. Sumber referensi yang akan saya pakai adalah PSAK 23 revisi 2010.

Secara definisi, pendapatan adalah arus kas masuk bruto dari manfaat ekonomi yang timbul dari aktivitas normal entitas selama suatu periode jika arus masuk tersebut mengakibatkan kenaikan ekuitas yang tidak berasal dari kontribusi penanaman modal.

Sesuatu dikatakan sebagai pendapatan jika berasal dari:

-  Penjualan barang

-  Penjualan jasa

-  Penggunaan asset entitas oleh pihak lain yang menghasilkan bunga, royalty, dan deviden.

Penjualan barang ini meliputi barang yang diproduksi (manufactured) atau barang yang dibeli dengan tujuan dijual kembali dalam suatu siklus operasi entitas. Untuk pendapatan yang dihasilkan dari aktivitas sewa menyewa tidak dijelaskan dalam pembahasan ini karena ada PSAK tersendiri yang membahas tentang hal tersebut.

Permasalahan yang mungkin timbul dari pengakuan pendapatan adalah kapan pendapatan bisa diakui oleh suatu entitas?

Menurut kriteria pengakuan pendapatan yang terdapat dalam PSAK 23, suatu entitas dapat mengakui pendapatan jika memenuhi kriteria di bawah ini:

  • Entitas telah memindahkan risiko dan manfaat kepemilikan barang secara signifikan kepada pembeli.
  • Entitas tidak lagi melanjutkan pengelolaan yang biasanya terkait dengan kepemilikan atas barang ataupun melakukan pengendalian efektif atas barang yang dijual.
  • Jumlah pendapatan dapat diukur secara handal
  • Kemungkinan besar manfaat ekonomi yang terkait dengan  transaksi tersebut mengalir ke entitas dan,
  • Biaya yang terjadi atau yang akan terjadi sehubungan dengan transaksi penjualan tersebut dapat diukur secara handal.

Sedangkan menurut IAS 18, pendapatan dapat diakui oleh entitas ketika risiko yang melekat pada barang atau jasa telah berpindah ke pembeli atau pengguna jasa. Hal ini agaknya sedikit lebih longgar dibandingkan dengan ketentuan yang diterapkan oleh US-GAAP sebelumnya dimana pendapatan diakui ketika sudah memenuhi dua kriteria yaitu earned dan realized selama kedua kriteria tersebut belum terpenuhi maka entitas belum dapat mengakui pendapatan, tetapi tetap harus mengakui beban yang timbul dari usaha memperoleh pendapatan tersebut.

IFRS dalam IAS 18 menyebutkan bahwa entitas harus memenuhi dua kriteria yang tidak boleh dipisahkan dalam mengakui pendapatan yaitu:

a)  Risiko yang melekat pada pada barang dan jasa (yang diperjualbelikan) berpindah ke pembeli

b)  Ketentuan a akan tidak berlaku jika barang atau jasa yang diserahkan secara penuh (dan risiko yang melekat pada barang/jasa tersebut berpindah ke pembeli) namun kepastian pembayaran dari pembeli tidak dapat di ukur secara handal, maka entitas belum dapat mengakuinya sebagai pendapatan.

Dalam hal ini ada yang berpendapat bahwa ketentuan IAS 18 tentang kriteria pengakuan pendapatan lebih mengarah ke cash basis, tapi menurut bijak saya disini memang bisa diidentifikasikan mengarah ke cash basis, tetapi bisa juga diterapkan untuk accrual basis karena jika suatu entitas bisa mengidentifikasikan dengan handal berapakah jumlah pendapatan yang akan di terima dan berapakah jumlah biaya yang timbul atas transksi tersebut maka entitas bisa mengakui pendapatan tidak terpaku pada berapakah jumlah yang telah diterima oleh entitas tersebut.

Bagaimana dengan penjualan barang secara konsinyasi?apakah pendapatan atas penjualan tersebut bisa kita akui sebagai pendapatan sesuai dengan PSAK 23? Jawabannya adalah tidak bisa karena pada penjualan konsinyasi, tidak terdapat perpindahan risiko baik secara keseluruhan atau secara signifikan dibuktikan dengan masih diakuinya penjualan konsinyasi tersebut sebagai persediaan penjual, kemudian penjual juga belum bisa memastikan berapakah jumlah barang yang terjual.

Pada kasus lain, biasanya ketika terjadi penjualan barang disertakan perjanjian mengenai retur karena barang rusak atau barang tidak sesuai dengan spesifikasi yang diminta oleh pembeli, dalam hal ini menurut ketentuan PSAK 23 dan IAS 18, penjual bisa saja mengakui pendapatan atas penjualan barang tersebut selama:

  1. Penjual bisa mengestimasi berapakah jumlah retur secara handal
  2. Biaya yang menyertai penjualan dan retur tersebut bisa diestimasi

Jika kedua kriteria diatas tidak bisa dipenuhi oleh penjual maka penjual belum bisa mengakui pendapatan, namun biaya yang timbul dalam rangka memperoleh pendapatan harus diakui sebagai beban berjalan.

Penentuan kapan entitas telah memindahkan risiko dan manfaat kepemilikan secara signifikan kepada pembeli memerlukan pengujian. Pada umumnya, pemindahan risiko dan manfaat kepemilikan terjadi pada saat yang bersamaan dengan pemindahan hak milik atau penguasaan atas barang tersebut kepada pembeli. Seperti misalnya pada transaksi penjualan secara ecer, dalam kasus lain pemindahan risiko dan manfaat kepemilikan terjadi pada saat yang berbeda dengan pemindahan hak milik atau penguasaan atas barang tersebut. Jika entitas menahan risiko signifikan dari kepemilikan, maka transaksi tersebut bukanlah penjualan dan pendapatan tidak diakui. Entitas dapat menahan risiko dan manfaat kepemilikan secara signifikan dalam berbagai cara, diantaranya adalah:

a. Jika entitas menahan kewajiban sehubungan dengan pelaksanaan suatu hal yang tidak memuaskan yang tidak dijamin oleh ketentuan jaminan normal.

b. Jika penerimaan pendapatan dari penjualan bergantung pada pendapatan pembeli dari penjualan barang yang bersangkutan.

c. Jika pengiriman barang barang bergantung pada instalasinya dan instalasi tersebut merupakan bagian signifikan dari kontrak yang belum diselesaikan entitas dan

d. Jika pembeli berhak membatalkan pembelian berdasarkan alasan yang ditentukan dalam kontrak dan entitas tidak dapat memastikan apakah akan terjadi retur.

Sebaliknya jika entitas yang menjual barang hanya menahan risiko tidak signifikan atas kepemilikan, maka transaksi tersebut adalah penjualan dan pendapatan dapat diakui. Misalnya entitas yang hanya menahan risiko yang tidak signifikan dari kepemilikan dalam hal penjualan eceran dengan syarat dapat dikembalikan jika pelanggan tidak puas dan penjual dapat mengestimasi secara handal berapakah jumlah penjualan yang kembali (jumlah retur) berdasarkan data historis yang ada.

Jika dalam suatu transaksi penjual tidak dapat mengestimasi berapakah jumlah penjualan yang mungkin akan terjadi dan penjual juga tidak bisa mengestimasi berapakah biaya yang timbul setiap imbalan yang masuk atas penjualan tersebut tidak boleh diakui sebagai pendapatan tetapi diakui sebagai kewajiban (pendapatan diterima dimuka, dicatat disisi kewajiban).

Pada penjualan jasa, kriteria yang ditentukan sama dengan penjualan barang yang telah dijelaskan diatas, namun untuk penjualan jasa konstruksi diatur tersendiri pada PSAK 34 “Akuntansi Kontrak Konstruksi”.

Diatas disebutkan bahwa PSAK 23 ini juga mengatur pendapatan yang berupa bunga, royalty, dan dividen. Kriteria pengakuan pendapatan untuk ketiga hal ini secara garis besar masih sama dengan kriteria pengakuan pendapatan yang telah dijelaskan diatas, namun secara spesifik bunga, royalty dan dividen bisa diakui sebagai pendapatan jika kemungkinan besar manfaat ekonomi sehubungan dengan transaksi tersebut akan mengalir ke entitas;dan Jumlah pendapatan dapat diukur secara handal.

Pendapatan diakui dengan dasar sebagai berikut:

  1. Bunga diakui menggunakan metode suku bunga efektif sebagaimana dijelaskan dalam PSAK 55 (revisi 2006). Instrumen keuangan: pengakuan dan pengukuran .
  2. Royalti diakui dengan dasar akrual sesuai dengan substansi perjanjian yang relevan;dan
  3. Dividen diakui jika pemegang hak saham pasti akan mendapatkan pembayaran yang telah ditetapkan sesuai dengan perjanjian.

Ketentuan lain menyebutkan jika pendapatan bunga yang belum dibayar telah diakru sebelum pembelian investasi yang berbunga, maka penerimaan bunga kemudian dialokasikan antara periode sebelum dan sesudah pembelian dan hanya bagian setelah pembelian yang diakui sebagai pendapatan. Royalti diakru sesuai dengan syarat perjanjian yang relevan dan pendapatan juga diakui umumnya dengan dasar tersebut kecuali dengan memperhatikan substansi perjanjian akan lebih sesuai untuk mengakui pendapatan atas dasar sistematis dan rasional lain.

Setalah pembahasan mengenai kapan pendapatan bisa diakui, selanjutnya sebagai pelengkap akan disampaikan juga mengenai pengungkapan pendapatan.

Dalam hal pengungkapan pendapatan di dalam laporan keuangan, entitas harus mengungkapkan beberapa hal berikut ini:

a. Kebijakan akuntansi yang digunakan untuk pengakuan pendapatan, termasuk metode yang digunakan untuk menentukan tingkat penyelesaian transaksi penjualan jasa;

b. Jumlah setiap kategori signifikan dari pendapatan yang diakui selama periode tersebut, termasuk pendapatan yang berasal dari: penjualan barang, penjualan jasa, bunga, royalty, dan dividen.

c. Jumlah pendapatan yang berasal dari pertukaran barang atau jasa yang tercakup dalam setiap kategori signifikan dari pendapatan.

Setalah pembahasan diatas, saya sendiri mempertanyakan satu hal, di kantor saya yang bergerak di bidang jasa audit ini kapankah perusahaan saya mengakui pendapatan?apakah pada saat dikeluarkannya SPK atau saat dikeluarkannya invoice saat penagihan atau malah saat engagement letter ditandatangani?

Kira-kira demikian yang bisa saya sampaikan dalam pembahasan pengakuan pendapatan ini. Semoga bermanfaat.

About these ads

One response

  1. great explanation :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: