Optimis

Salah satu sikap yang harus kita miliki agar kita bisa menjadi salah satu golongan orang-orang yang sukses dunia dan akhirat adalah Optimis.

 

Optimis ini adalah akhlak yang mencerminkan keimanan kita kepada Allah Ta’ala. Kenapa saya bisa berkata seperti itu, karena didalam sikap optimis kita meyakini bahwa Allah adalah penjamin hidup kita.  Santo Agustinus Hippo mendifinisikan Iman sebagai keteguhan meyakini apa yang belum dlihat dan balasan keimanan adalah melihat apa yang diyakini itu.

 

Orang yang optimis akan cenderung mencapai apa yang ia inginkan dibandingkan dengan orang yang pesimis. Hal ini sudah saya alami.

Ketika saya sedang melawati masa-masa pencarian Universitas, saya menetapkan target yang bisa dibilang kurang rasional. Saya membuat daftar list nama-nama universitas ternama kemudian saya urutkan berdasarkan cita-cita saya.

 

Pilihan pertama saat itu adalah Universitas Indonesia, dilanjutkan dengan Universitas Gadjah Mada, Universitas Airlangga, Universitas Diponegoro, dan Universitas Padjajaran.  Mungkin bagi orang lain target saya diatas masih biasa saja namun bagi saya target tersebut luar biasa.

Saat saya duduk di kelas 1 dan kelas 2 SMU,  saya jarang berangkat sekolah dan kalau saya tidak salah saya tidak pernah mendapatkan juara kelas, Ranking saya selalu diatara 11 atau 13. Yang saya tahu saat itu adalah saya yakin saya bisa entah bagaimana caranya dan entah bagaimana ceritanya nanti.

 

Mulai kelas 3 SMU saya rajin berangkat sekolah, saya tidak lagi menganut mashab ulangan borongan dalam satu hari. Saya lebih rajin mengerjakan tugas sekolah dan saya lebih sering ke perpustakaan dibandingkan sebelumnya.

 

Saya percaya bahwa Allah itu mengikuti kehendak hambaNya. Seperti firman Allah Ta’ala “Aku adalah seperti apa yang hamba-Ku sangkakan kepada-Ku”. Dengan keyakinan penuh saya memulai hari-hari saya dengan perjuangan. Saya merubah banyak sikap yang tidak sesuai, saya berusaha memantaskan diri agar Allah mengabulkan cita-cita saya.

 

Setiap sore saya mengikuti bimbingan belajar dan malamnya saya les privat matematika, ngomong-ngomong tentang matematika , saya sangat tidak jago untuk urusan matematika. Saya tidak pernah mendapatkan nilai 6 untuk ulangan harian matematika paling banter cuman dapet 3 atau 4.

 

Tapi saya ingat sekali sewaktu saya sedang menghadapi ulangan umum matematika, mungkin saking depresinya saya disudut kanan bawah kertas jawaban dan kertas ulangan saya saya tulis kalimat “I REFUSE TO GIVE UP I REFUSE TO GIVE IN” sebelum saya mengerjakan ulangan itu, tentunya setelah saya membaca Bismillahirrahmanirrahim. Sehingga saat saya merasa sudah mentok dan merasa tidak sanggup lagi memutar otak saya lihat ke sudut kanan bawah kemudian menghela napas sebentar dan meneruskan mengerjakan sampai waktu yang telah ditentukan.

 

Walaupun pada akhirnya nilai ulangan matematika saya tidak jauh-jauh dari angka 3 atau 4 saya tetap tidak kapok melakukan hal itu hehehehe.

Selama satu tahun itu, saya terus berikhtiyar dan juga berdoa kepada Allah Ta’ala. Hasil dari usaha dan ikhtiyar saya membuahkan hasil. Pada semester pertama saya mendapatkan ranking 1 PARAREL  se SMA. Bisa dibayangkan kan betapa senangnya saya ketika upacara bendera nama saya disebut disaksikan semua teman-teman SMA saya.

 

Kemudian saat semester 2 saya mendapatkan berkah yang entah darimana datangnya, saya mendapatkan beasiswa gratis dan diterima di salah satu Universitas swasta ternama di Jakarta dengan jurusan bonafid pula. Sungguh berkah yang tidak disangka, Allah Ta’ala memang maha pemurah dan maha penyayang kepada hamba-hambanya yang berserah diri seperti yang Allah Ta’ala jelaskan dalam QS Ath-Thalaq ayat 65 “Dan dia member rizki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan Urusan-Nya. Sungguh Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu”.

 

Tapi inti perjuangan saya bukanlah beasiswa tersebut olehkarena itu, dengan berat hati saya tolak tawaran beasiswa tersebut dan meneruskan untuk memperjuangkan target saya. Sampai akkhirnya tibalah masa-masa pendaftaran ujian masuk universitas dan saya memilih untuk menguji peruntungan dengan mendaftar di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

 

Saya mengikuti serangkaian tes yang cukup melelahkan sampai singkat cerita hari pengumuman kelulusan ujian masuk UGM. Saya ingat sekali ketika itu jantung saya rasanya mau copot menunggu pengumuman, kala itu kalau tidak salah pengumumannya disampaikan lewat sms jam 10 malam.

 

Namun setelah saya tunggu-tunggu sms tersebut masih belum bisa diproses mungkin karena banyak yang sms. Saya berusaha menenangkan diri dengan rebahan sambil berdzikir. Tepat ketika saya akan melaksanakan shalat Tahajud saya iseng mengirimkan sms ke UGM kemudian saya letakkan kembali HP saya dan saya mulai melaksanakan shalat tahajud.

 

Setelahnya saya kembali melanjutkan tidur karena ketika saya tengok ternyata tidak ada balasan apapaun dari UGM. Tepat ketika shubuh setelah saya shalat saya melihat HP dan ada satu sms. Dengan pelan saya buka sms tersebut kemudian saya cermati betul tiap kalimatnya, rasanya saya bisa merasakan aliran darah saya yang turun dari kepala ke kaki….Subhanallah saya diterima di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta dengan jurusan Ekonomi Akuntansi.

Seketika saya langsung sujud syukur, seluruh keluarga saya menangis terharu mendengar kabar bahwa saya diterima.

 

Begitulah Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang tawakal dan berusaha memantaskan diri untuk cita-cita yang diinginkannya.

Sebenarnya akhlak mulia ini juga telah dicontohkan oleh Rasululloh SAW bahwa suatu ketika Rasululloh SAW hendak melaksanakan dakwahnya beliau biasa melewati suatu rumah dimana pemilik rumah tersebut sangat tidak menyukai Rasululloh sehingga setiap kali Rasululloh melewati rumahnya, Ia pasti meludahi rasululloh sampai suatu ketika pemilik rumah tersebut jatuh sakit dan apa yang dilakukan oleh Rasululloh? Rasululloh mendatangi pemilik rumah tersebut dan kemudian mendoakannya agar Allah menyembuhkan pemilik rumah tersebut dan setelah pemilik rumah tersebut sembuh Ia langsung menemui Rasululloh dan mengutarakan keinginannya untuk masuk ISLAM.

 

Bisa dibayangkan kan?bagaimana OPTIMIS nya Rasululloh dalam memperjuangkan ISLAM. Tidak ada suatu hal pun yang didapatkan dengan gratis, semuanya butuh perjuangan!

 

Ingat gak dengan beberapa tokoh-tokoh terkenal yang berhasil menciptakan benda-benda yang sampai saat ini bermanfaat seperti Alexander Graham Bell, Thomas Alfa Edison, atau pemeran utama dalam Film Beautiful Mind? Mereka semua bukanlah dari orang yang diberkahi oleh Allah Ta’ala kesempurnaan mutlak namun sebaliknya tapi mereka tidak pernah menyerah dan selalu OPTIMIS dalam hidupnya.

 

Sesorang telah dikatan optimis ketika ia meyakini ketidakmungkinan sebagai sebuah kemungkinan, meyakini kata iya disaat orang lain berkata tidak dan berikhtiyar dengan sungguh-sungguh serta berdoa, Allah Ta’ala menyukai hamba-hambaNya yang berdoa “( Dan) Tuhanmu berfirman: Berdoalah kepadaku niscaya akan aku kabulkan bagimu” QS Al-Ghafir: 60.

 

Segala sesuatu yang ada di dunia ini adalah milik Allah Ta’ala, dan Allah Ta’ala selalu menepati janji-janin-Nya. Dan sudah sepantasnya kita memiliki akhlak Optimis sebagai wujud iman kita kepada Allah Ta’ala seperti syahadat kita yang berbunyi “ Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah”.

 

Sekian dulu pembahasan tentang sikap Optimisnya, semoga bisa membawa kebaikan dan suri tauladan yang baik bagi kita semua.

Segala yang benar itu datang dari Allah Ta’ala sedangkan kesalahan adalah milik saya sepenuhnya..

 

 

Salam Hangat 

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: